Selasa, 26 November 2013
Kisah Di Malam Minggu Yang Kelam

Hari Sabtu menjelang malam minggu. Malam ini Tak ada lagi aktivitas berarti yang terjadi. Hanya beberapa anak muda yang tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menghabiskan malam minggu bersama kekasihnya.
Perkampungan kumuh di bantaran kali Ciliwung nampak sepi. Nampak sebuah rumah temaram yang dihuni sepasang suami istri, tak beda jauh dengan rumah lainnya.
"Mas, malam ini kita ke mall ya," Mijem menyodorkan kopi manis ke Parno yang langsung disambut seruputan nikmat suaminya itu.
"Ya ampun Jem, sisa setoran angkot ke Pak Jamal aja cuma cukup untuk makan besok, belum lagi biaya kos rumah ini udah nunggak dua bulan, belum lagi kita butuh biaya tambahan buat bayi yang ada dalam perutmu itu," Parno berujar sambil menunjuk perut Mijem yang membuncit.
"Jangan bahas itu mas, saya udah bosen! Kan saya cuma mau refreshing. Capek mas jadi buruh cuci seharian," Mijem berkeluh kesah pada Parno.
"Oh jadi kamu nggak ikhlas bantu mas kerja! Syukur kamu masih saya kasih makan! Dasar perempuan nggak tau diri," Parno murka.
Keduanya terlibat adu mulut sengit. Entah ini pertengkaran yang keberapa kalinya di hari ini. Pagi, siang, dan malam tak mampu melelahkan pertengkaran mereka.
"Plaaakk..," sebuah tamparan mendarat di pipi Parno. Panas, sepanas telapak tangan Mijem yang menampar suaminya.
Sunyi menyelimuti mereka tiba-tiba. Hanya deru nafas dari keduanya yang terdengar.
Saat sang suami merasakan panas dan pedihnya tamparan sang istri, justru mijem merasakan dingin yang teramat sangat. Diawali dari dada hingga ke ulu hati.
Dingin yang menjalar dari sebilah pisau yang ditancapkan Parno suaminya, entah sejak kapan Parno menyembunyikan pisau di balik punggungnya. Mijem tersungkur seketika.
Perasaan aneh menyelimuti Parno, namun bukan rasa bersalah. Nafasnya tercekat lalu ia limbung begitu saja. Kini Parno pun tergeletak tak bernyawa. Masih sempat dilihatnya bungkusan kecil racun tikus yang digenggam sang istri sesaat sebelum semuanya gelap. Racun yang dicampurkan Mijem ke dalam kopi manisnya tadi.
Malam kembali sunyi. Kali ini tak kan ada keributan yang bisa terjadi. Para tetangga bisa tidur tenang malam ini, tanpa suara nyanyian piring pecah yang acap kali terdengar dari rumah keduanya.
Semoga Malam Minggu agan sekalian selalu lebih bermakna..!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar